Orang Marketing Tanpa Jiwa Marketing

llllllBelum pernah gue ketemu orang marketing seperti Pak Dodol (anggap aja nama samaran). Dia adalah orang nomer satu di kantor cabang Asuransi Dwipa (anggap aja nama samaran) yang adalah anak perusahaan dari Bank tempat gue bekerja. Karakter orang marketing yang gue kenal selama ini umumnya mudah bergaul dan ramah, terlepas dari apakah ada kepentingan dibalik keramahan itu. Tapi sejak pertama kali dimutasi ke kota yang sama ama gue, Pak Dodol memperlihatkan anomali sikap yang kontras. Orang marketing tanpa jiwa marketing. Layaknya orang marketing, Pak Dodol juga melakukan maintaining nasabah dengan berkunjung ke kantor nasabah maupun rekanannya. Pak Dodol pun rajin menyambangi kantor gue dalam konteks sebagai rekanan karna bank tempat gue bekerja adalah penyuplai banyak sekali nasabah asuransinya. Ya iyalah, tiap kali bank mau ngasih kredit pasti jaminan yang diagunkan oleh debitur harus diasuransiin. Anggaplah nilai jaminan yang harus diasuransikan itu minimal sama dengan nilai kredit yang diberikan. Cobalah sosodara bayangkan seandainya premi yang diterima asuransi adalah 3 per mil (tiga per seribu) aja, 1 debitur dengan kredit Rp 10 M akan menghasilkan Rp 30 juta. Kalikanlah dengan jumlah 20 debitur, 30 debitur atau 50 debitur…udah sepantasnya si asuransi menjaga hubungan baek sama bank. Pak Dodol pun tahu itu. Hanya caranya saja yang kleru. Setiap kali berkunjung, dia langsung senyam-senyum ke pemimpin, wakilnya dan orang-orang yang berlabel manager (mostly recognized as Relationship Manager in many banks) .Yang berlabel asisten didepan label managernya atau temen-temen yang ngga terkait langsung dengan penentuan asuransi mana yang mau dipake atau (dianggap) posisinya ngga penting silahkan minggir. Beradu pandang pun Pak Dodol tak sudi. Singkat cerita, sebagian besar orang dikantor gue muak liat sikap doi yang jelas-jelas pasang muka ramah, senyum lebar, mbungkuk-bungkuk didepan bos gue dan para managernya hanya karna ada kepentingan, biar terus dikasih nasabah. So Obvious. Ngga tulus. Menurut gue, inilah contoh orang marketing ngga punya jiwa marketing. Dia lupa pepatah orang bule, “Every Dog Will have Its Day“. Orang kita bilang, roda kehidupan pasti berputar. Ngga selamanya orang yang dipandang rendah akan selamanya rendah. Asisten manajer suatu saat akan jadi manajer, pemimpin cabang atau bahkan direktur sekalian. Orang marketing dengan jiwa marketing sejati umumnya tau membaca prospek, bisa liat keadaan dan menempatkan diri dengan elegan diantara orang yang sedang dan akan berkuasa. Ironisnya, roda kehidupan itu sering berputar dengan kecepatan yang tidak diduga oleh manusia. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, salah seorang asisten manajer di kantor gue dipromosiin jadi manajer. Dia termasuk salah seorang yang paling eneg liat tingkah Pak Dodol. Hasilnya? Jangankan dikasih nasabah baru, polis asuransi debitur yang sebelumnya make asuransinya Pak Dodol pun dipindahkan ke asuransi lain. Pak Dodol pun sudah telat untuk membungkuk-bungkuk. Padahal tidak perlu membungkuk-bungkuk untuk jadi orang marketing sejati, yang diperlukan adalah ketulusan sikap.

 

Original Source : http://soyjoy76.wordpress.com/2009/02/09/orang-marketing-tanpa-jiwa-marketing/
w : http://www.mysun.co

t : @mysunco

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: